Saturday, November 25klik1ayat.com

Belajar Dari Cinta Ukasyah

35 views

Tiba suatu saat sayyidina Bilal diminta Rasulullah Saw. untuk memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tak lama berselang setelah seruan sayyidina Bilal, masjid dipenuhi oleh kaum muslimin yang telah menyimpan rindu karena lama tak berjumpa dengan Rasulullah Saw.

Tibalah Rasulullah Saw. dan segera duduk di atas mimbar. Dengan wajah pucat, menahan sakit yang tengah diderita Rasulullah Saw. bersabda:

“Wahai kaum muslimin. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah Swt. itu adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah?”

” Benar wahai Rasulullah, engkau telah sampaikan kapada kami bahwa sesungguhnya hanya Allah Swt.lah satu-satunya Tuhan yang layak disembah.” jawab para sahabat.

Kemudian Rasulullah SAW. melanjutkan,

“Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka.”

Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu.

“Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia.”

Rasulullah Saw. mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.

Tiba-tiba bangun seorang lelaki tua. Seorang sahabat yang dikenal sebagai Ukasyah bin muhsin bin murrah, berkata:

“Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa. ”

Rasulullah SAW.berkata: “Sampaikanlah wahai Ukasyah. ”

Maka Ukasyah pun mulai bercerita:

“Demi ayah dan ibuku. Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, engkau sempat memukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak mengenai kuda, tapi justru terkena dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah. Aku tak tahu apakah engkau memang sengaja melakukan atau engkau bermaksud memukul kuda.”

Mendengar itu, Rasulullah Saw. berkata: “Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama.”

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.”

Sontak para sahabat yang mendengar perkataan Ukasyah berteriak marah.

“Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. bukankah Baginda sedang sakit?”

Ukasyah tidak bergeming, mengabaikan sikap para sahabat saat itu. Rasulullah Saw. meminta sayyidina Bilal untuk mengambil cambuk di rumah anaknya, sayyidah Fatimah. Ketika sayyidina Bilal meminta cambuk itu dari sayyidah Fatimah, putri Rasulullah itu pun bertanya: “Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini, wahai Bilal? Bukankah hari ini adalah hari haji bukan hari berperang?”

Bilal menjawab dengan nada sedih: “Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah.”

Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:

“Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku, anaknya. ”

Bilal menjawab: “Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua. ”

Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu memberikannya kepada Ukasyah.

Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah Saw. Tiba-tiba  sayyidina Abu Bakar dan Umar  berdiri menghalau Ukasyah sambil berkata:

“Wahai Ukasyah,  Qashaslah kami. Jangan kau qashah Rasulullah.”

Rasulullah Saw. : “Duduklah wahai Abu Bakar, dan juga engkau wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah. ”

Ketika Ukasyah meneruskan langkah menuju Rasulullah, tiba-tiba saja sayyidina Ali bin Abu Thalib berdiri menghalanginya sambil berkata:

“Ukasyah, Inilah punggung dan perutku. Pukullah aku, jangan kau pukul Rasulullah, wahai Ukasyah.”

Rasulullah Saw. kembali berkata: “Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah.”

Setelah sayyidina Abu Bakar, Umar dan Ali, kini kedua cucu kesayangan Rasulullah Saw., sayyidinna Hasan dan Husen berdiri memegangi tangan Ukasyah sambil memohon.

“Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit. Pukul kami saja, wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah. Memukul kami sama halnya dengan menyakiti kakek kami, wahai Paman.”

“Wahai cucu-cucu kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dengan paman Ukasyah.” Ucap Rasulullah Saw.

Sesampainya di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata:

“Bagaimana aku mau memukul engkau, ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini.”

Rasulullah Saw. memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:

“Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah.”

Mendengar ucapan Ukasyah yang semakin kurang ajar, para sahabat semakin geram. Namun, Rasulullah Saw. dengan tubuh yang begitu lemah menguatkan diri untuk membuka baju. Sehingga terlihatlah tubuh Rasulullah Saw. dengan beberapa ikat batu yang melingkar di perut.

“Wahai Ukasyah, bergegaslah dan janganlah kamu ber-lebihan. Jika tidak, Allah akan murka padamu.” ucap Rasulullah Saw.

Ukasyah langsung berlari menuju Rasulullah Saw. cambuk yang semula siap di tangannya, kini ia lempar. Segera ia peluk tubuh Rasulullah Saw. seerat-eratnya.

“Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku. Tiada manusia yang sanggup menyakiti engkau, ya Rasulullah. Aku sengaja berbuat seperti ini agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Tak ada keinginan dalam hidupku kecuali agar dapat memelukmu. Karena sesungguhnya, aku tahu jika tubuhmu tidak akan tersentuh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya, Rasulullah.” ucap Ukasyah dengan tangis sejadi-jadinya.

Rasulullah Saw. tersenyum. “Wahai para sahabatku, jika kalian ingin melihat ahli surga, maka lihatlah Ukasyah. ”

Menyaksikan kejadian itu, para sahabat larut dalam suasana haru. Kegeraman mereka kini berganti dengan tetes air mata yang tak terbendung. Sungguh beruntung Ukasyah yang telah mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Rasulullah. Kini mereka bergantian memeluk Rasulullah Saw. Dan tak ada yang menduga jika Rasulullah Saw. akan terbaring sakit 18 hari, setelah kejadian tersebut. Sebelum pada akhirnya Rasulullah berpulang ke rahmatillah.

Kertas Lecek
Kertas Lecek

Latest posts by Kertas Lecek (see all)

bagikan iniShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn