Saturday, November 25klik1ayat.com

Bimaristan Yang Fenomenal

33 views

Kecanggihan teknologi merupakan salah satu simbol tingginya peradaban suatu bangsa. Kini, Barat yang dianggap sebagai kiblat perkembangan teknologi dunia, termasuk bidang peralatan medis dan kedokteran), nyatanya tak luput dari sumbangsih besar peradaban Islam di masa silam. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Dulu, banyak cendikiawan Barat yang belum mampu membuat konsep rumah sakit atau Bimaristan ketika itu. Namun tidak dengan Islam, agama ini hadir menorehkan catatan membanggakan dalam time line peradaban dunia.

Salah satu puing sejarah kegemilangan Islam yang sangat fenomenal adalah Bimaristan. Kata Bimaristan diadopsi dari bahasa Persia yang bermakna rumah sakit (hospital), bimar berarti penyakit (desease) dan stan berarti lokasi atau tempat.

Keberadaan Bimaristan menjadi bukti rekaman sejarah tentang betapa tingginya peradaban Islam pada abad ke-13 M, karena hampir di tiap ibu kota negara Islam terdapat rumah sakit yang telah dilengkapi dengan sekolah kedokteran, perpustakaan dan pusat pengembangan medis. Selain itu, fakta sejarah ini menepis stetmen miring yang sering dilontarkan pihak barat tentang keterbelakangan kaum muslimin di berbagai sektor kehidupan, terutama dalam ilmu pengetahuan.

Dalam sebuah buku yang berjudul “من روائق حضارتنا” karangan DR. Musthafa al-Siba’i dijelaskan bahwa di zaman keemasan peradaban Islam, hampir semua rumah sakit itu digratiskan bagi semua lapisan masyarakat, baik kaya maupun miskin, baik yang jauh ataupun yang dekat dan untuk orang berpendidikan maupun tidak. Semua faktor yang terbingkai dalam integritas rumah sakit mendapat perhatian penuh, dari segi pelayanan, makanan, pakaian, sanitasi lingkungan sampai pembekalan pasca kesembuhan.

Sungguh sebuah hal yang menakjubkan, tatkala rumah sakit pada masa itu telah memiliki seting operasional yang sangat teratur dalam hal manajemen dan administrasi, sehingga tak diragukan lagi jika konsep Bimaristan menjadi ikon peradaban dunia. Beberapa di antaranya:

Rumah Sakit al-Adhudi (Baghdad)

Rumah sakit ini didirikan oleh Daulah bin Buwaih pada tahun 371 H setelah penelitian al-Razi, seorang dokter ternama yang menentukan lokasi pembangunan dengan cara meletakan empat kerat daging di seluruh kota Baghdad, dari seluruh tempat itulah dipilih lokasi dengan sirkulasi udara terbersih. Pembangunan rumah sakit ini menelan biaya yang tidak sedikit, namun sebanding dengan fungsi dan perananannya di tengah masyarakat. Dilengkapi 24 dokter ahli dengan segala fasilitas penunjang, baik perpustakaan, apotek, dapur, toko, gudang, kebun sebagai penghasil buah-buahan dan puluhan perahu sebagai alat transportasi orang lemah dan miskin. Pada tahun 449 H Khalifah al-Qa’im Biamrillah melakukan renofasi dan penambahan jajaran kepengurusan, tempat tidur, selimut serta pelengkapan berbagai macam obat dan sirup langkah ketika itu.

Rumah Sakit an-Nuri (Damaskus)

Didirikan oleh Sultan Nuruddin Mahmud Zanki al-Syahid pada tahun 549 H atau 1154 M dengan alokasi pendanaan hasil fidya (tebusan) salah seorang raja Eropa. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit terbaik di antara puluhan rumah sakit di seluruh negeri. Awal mulanya, Rumah Sakit an-Nuri diperuntukan bagi kaum fakir-miskin, tetapi jika orang-orang kaya terpaksa memerlukan pengobatan di tempat tersebut, mereka juga diizinkan untuk mendapatkannya.

Pada tahun 580 H, Ibnu Jubair singgah di rumah sakit itu. Dia berkisah tentang besarnya nilai humanisme di tempat tersebut. Di dalamnya terdapat persediaan obat-obatan dan makanan dengan standar konsumsi tinggi. Dia juga menemukan ruang rawat khusus penderita penyakit jiwa. Sayang, kemasyhuran rumah sakit ini terhenti pada tahun 1317. Hingga akhirnya didirikan Rumah Sakit al-Ghuraba yang sekarang dibawah kepengurusan Fakultas Kedokteran Universitas Syiria. Karena hal inilah Rumah Sakit an-Nuri ditutup dan dialih fungsikan sebagai sekolah negeri.

Rumah Sakit Besar al-Manshuri

Rumah sakit ini dikenal dengan Rumah Sakit Qolawun yang bernisbat kepada raja al-Manshur Saifuddin Qalawun. Pada mulanya, rumah sakit ini adalah komplek perumahan pejabat, kemudian pada tahun 683 H (1284 M) Manshur Saifuddin Qalawun merombaknya menjadi rumah sakit dengan menambahkan sebuah masjid, sekolah dan panti asuhan di dalamnya. Setiap tahun dia mewakafkan untuk rumah sakit tersebut 1.000 dirham. Sebagian saksi sejarah mengatakan bahwa penyebab pembangunan rumah sakit itu adalah rasa takjub Manshur Saifuddin Qalawun ketika melihat kemajuan pengobatan Rumah Sakit an-Nuri sehingga ia bernadzar untuk membangun rumah sakit yang sama kelak ketika dia diberikan kekuasaan dan nadzar itu terwujud tatkala ia naik tahta menjadi raja.

Rumah Sakit Besar al-Manshuri merupakan salah satu bukti kecanggihan dunia islam dalam hal pengaturan dan penertiban. Di antara hal yang menakjubkan lainnya ialah kemanfaatan rumah sakit tidak terbatas hanya pada pasien-pasien yang tinggal di tempat tersebut, tetapi juga diperuntukkan bagi pasien luar yang membutuhkan pelayanan medis.

Rumah Sakit Marrakesh (Maroko)

Rumah sakit ini dibangun oleh Amirul Mukminin Manshur Abu Yusuf, salah seorang raja Muwahhidin di Maroko. Rumah sakit Marrakesh adalah rumah sakit besar yang indah dengan taman yang berisikan pohon buah-buahan dan bunga. Di samping itu air memasuki semua bagian rumah sakit melalui saluran air yang saling terhubung satu sama lain. Marrakesh adalah sebuah ibu kota Maroko pada masa silam yang berjarak kurang lebih 200 km ke sebelah timur kota Mogador.

Itulah paparan singkat mengenai sejarah keemasan Islam abad ke-13 yang patut kita lestarikan dan renungkan. Karena bukan suatu yang mustahil jika kita kembali membubuhkan tinta emas peradaban Islam dalam lembaran sejarah dunia. red

Kertas Lecek
Kertas Lecek

Latest posts by Kertas Lecek (see all)

bagikan iniShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn