Saturday, November 25klik1ayat.com

Jalan Pintas Untuk Sukses

26 views

Ridho orang tua punya peran yang cukup dominan untuk kelancaran rencana kehidupan kita. Urusan bisnis, sekolah, rumahtangga, bahkan ibadah akan terasa lebih mudah jika kita telah mengantongi ridha orangtua. Mengapa bisa demikian? Karena ridha Allah bergantung kepada ridha orangtua. Begitu pula kemurkaan Allah Swt. bergantung kepada kemurkaan orangtua. Lebih jelas, bisa kita simak hadits riwayat Ibn Hibban dari Sy. Abdullah bin Umar Ra. Di bawah ini:

رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ

“Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orangtua.”

Untuk mendapatkan ridha tersebut, sudah selayaknya bagi kita untuk meminta restu terlebih dahulu. Memang, terkadang ada beberapa ganjalan yang membuat perolehan restu ini serasa tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal, termasuk kecemasan dan kekhawatiran sering kali menjadi motif klasik orangtua untuk memberatkan atau mencegah rencana kita. Namun tetap hal itu bukan masalah. Solusinya, bagaimana kita mampu memberi kefahaman dan pengertian akan pentingnya rencana kita, itu saja.

Bagaimanapun juga, meminta ijin adalah hal penting, bagian dari akhlaqul karimah dan bentuk dari kebaktian seorang anak kepada orangtua. Meminta ijin mungkin terlihat sepeleh. Tapi ingat, di sisi lain hal tersebut punya banyak nilai luhur yang tidak bisa diabaikan, termasuk nilai untuk menghargai dan syukur atas keberadaan keduanya.

Banyak yang tidak kita sadari. Besarnya pengorbanan seorang ibu dan semua hal yang dilakukannya dipenuhi cahaya keikhlasan untuk memperjuangkan nasib anak-anaknya. Tak jarang ia rela bekerja keras meski tahu harus menyakiti fisiknya. Asalkan bisa melihat kita bahagia, berhasil dalam hidup.

Seandainya saja sejak awal kita menyadari bahwa kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu sudah berlangsung semenjak mengandung. Maka sejak itu, tak ada alasan lagi untuk tidak menghargai keberadaannya. Apalagi jika sampai kita menyalahi keputusannya hanya karena ego untuk tetap bersikeras menjalankan rencana. Hal tersebut pasti akan membawa konsekuensi buruk, baik kita menyadarinya atau tidak. Seketika itu atau waktu yang takkan pernah kita tahu kapan.

Sejenak, kita bisa belajar dari kisah sayyidina Uwais al Qarni. Siapa sangka lelaki miskin yang memiliki keseharian menggembala kambing ini masyhur di kalangan penduduk langit. Tak hanya itu, bahkan Rasulullah Saw. mengutus sayyidina Abu Bakar dan Umar untuk meminta doa ketika keduanya menemui sayyidina Uwais. Yang menjadi pertanyaan, hal apakah yang membuat sayyidina Uwais mempunyai kedudukan istimewa di mata Rasulullah Saw.?

Keridhaan ibu, itulah penyebabnya. Kala mendengar kabar datangnya seorang Rasul di kota Mekkah, sayyidina Uwais berkeinginan untuk menemui. Namun, melihat keadaan ibunya yang tua dan lemah, rasanya sungguh sulit untuk meninggalkan begitu saja. Dengan kesabaran dan ketulusan sayyidina Uwais menyimpan keinginan untuk menemui Rasulullah Saw. sembari terus merawat ibunya. Waktu demi waktu sampai datang kabar tentang kewafatan Rasul Saw. Dari keridhaan ibunyalah sayyidina Uwais menjadi sayyiduttabi’in.

Dari penggalan kisah sayyidina Uwais, kita belajar untuk tidak meninggalkan doa restu orang tua. Karena doa orang tua adalah salah satu dari tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi, selain doa orang yang bepergian dan doa orang yang didzalimi. Jadi, sangat sayang sekali jika kita lebih memilih mengikutirencana tanpa mengantongi ridha dan doa restu orangtua.

 

 

Kertas Lecek
Kertas Lecek

Latest posts by Kertas Lecek (see all)

bagikan iniShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn